NAMA : Chronika Simatupang
PRODUCT UAV AI FIXED WINGS
1. Fix Wing UAV/Drone System Model AM.
02
Drone Terbaru dengan berat
maksimum 4,5 kg, panjang sayap maksimal 2.4 meter dan dipersenjatai dengan
kamera 12 Mega Pixel ini wajib anda
miliki. Mendapatkan Peta yang akurat, presisi, dan mutakir akan menjadi acuan ntuk membuat kebijakan yang efektif dan efesien, žDengan Wahan UAV dapat mendeteksi titik api, untuk pertahanan, untuk aplikasi kebencanan, pentuan jenis
hutan.
Pengelolahan Data, ESRI dapat mengelolah, memanipulasi, mengedit,
data
yang didapt dari lapangan sehinggamenghasilkan Peta yang dapat memberikan informasi ke Publik.
2. Wuxi YFT-CZ36

Wuxi YFT-CZ36 vertical take-off and landing (VTOL)
pengawas sayap tetap UAV
Seorang perwakilan di
Jiangsu Digital Eagle Technology Development Company yang berbasis di Wuxi
mengonfirmasi penjualan luar negeri pertama dari pesawat terbang pengintai sayap
tetap YFT-CZ36 vertical take-off and landing (VTOL) ke pemerintah Indonesia dan
Malaysia.
Perwakilan
perusahaan tidak akan mengidentifikasi lembaga pemerintah atau nomor yang
dijual. Selain Indonesia dan Malaysia, sumber tersebut memang mengonfirmasi
bahwa pesawat tersebut telah melakukan penjualan tambahan ke negara lain yang
dirahasiakan. Keberhasilan ini mendorong perseroan untuk pertama kalinya
melakukan pameran di DSA 2018 di Kuala Lumpur. YFT-CZ36 memiliki
ketinggian maksimum 4.000 m, muatan 4kg, kecepatan jelajah 70-100 km / jam, dan
daya tahan 60-90 menit.
Wuxi YFT-CZ36 vertical take-off and landing (VTOL)
pengawas sayap tetap UAV
Drone keamanan empat rotor
YM-4140 memiliki ketinggian maksimum 1.000m, muatan maksimum 3kg, kecepatan
jelajah 5-10m / s, dan ketahanan 40-60 menit.
Drone keamanan enam rotor
YM-6130 memiliki ketinggian maksimum 1.000m, muatan maksimum 16kg, kecepatan
jelajah 5-10m / s, dan ketahanan 40 menit. Drone keamanan delapan rotor YM-8120
memiliki ketinggian maksimum yang sama, muatan maksimum 3,3kg, dan daya tahan
30 menit.
Perusahaan juga menawarkan UAV
pemadam kebakaran. Delapan rotor YM-8160 Digital Eagle Fire Drone memiliki
muatan maksimum 15kg, kecepatan jelajah 5-10m / s, dan ketahanan 10-15 menit.
Itu dapat membawa alat pemadam kebakaran dan memecahkan jendela. Perusahaan
juga menawarkan berbagai sistem jammer UAV, bersama dengan kamera dua dan tiga
sumbu.
3. Amphibi Gama V2
Pesawat ini memiliki kemampuan terbang selama kurang 40 menit untuk
jangkauan jelajah 40 kilometer dan ketinggian jelajah maksimal 1.200 meter. Tak
hanya itu, Amphibi Gama V2 juga mempunyai kecepatan maksimal pesawat 25 meter
per detik, kecepatan jelajah pesawat 13 meter per detik serta kecepatan minimal
8 meter per detik.
Amphibi Gama V2 memiliki panjang 1.350 mm dengan bentang sayap
2.000 mm. Adapun bodi pesawat dibuat menggunakan bahan material komposit.
Sementara untuk kapasitas daya baterai LiPo 11.000 mAh. Sedangkan untuk
kapasitas muatan 1,5 Kg dan beban muatan maksimal untuk take off 6
Kg.
Pesawat ini juga dilengkapi dengan sensor akselerometer,
sensor gyroscope, sensor barometer, sensor air speed,
serta sistem navigasi GPS.
Sementara untuk sistem penggerak menggunakan motor brushless
dan kendali dengan motor servo. Pesawat juga dilengkapi dengan mikroprosesor,
kontrol manual berupa remote 2.4 Mhz, dan komunikasi telemetry 433 Mhz.

Apmhibi Gama V2 dikembangkan Tri Kuntoro bersama
dengan sejumlah peneliti di FMIPA UGM yaitu Oktaf Agni Dhewa, S.Si., M.Cs., Nur
Achmad Sulistyo Putro, S.Si., M.Cs., Ardi Puspa Kartika, S.Si., M.Cs., Faisal
Fajri Rahani, S.Si., M.Cs., Prasetya Aditama, S.P., S.Si., serta Faris Yusuf
Baktiar, S.Si. Selain Amphibi Gama V2, sebelumnya telah dihasilkan sejumlah
produk UAV tipe flying wing yaitu UAV Gama Tipe UX 328, UAV
Gama Tipe UX 528, UAV Gama Tipe UX 628 dan tipe fixed wing yakni
UAV Amphibi Gama V1.
4. Prototipe PM-1

Prototipe PM-1 telah
diluncurkan di kantor PT Dirgantara Indonesia,
Senin 30 Desember 2019 dan mampu terbang terus menerus selama 24 jam. Pesawat
itu ditargetkan bisa terbang perdana pada 2020.
Drone ini targetnya bisa lepas
landas dan mendarat sekira 700 meter dengan ketinggian sekira 20.000 kaki
dengan kecepatan maksimum 235 km per jam.
Untuk PM-4, targetnya dilengkapi
sertifikatnya pada 2024 untuk sudah berupa pesawat drone yang sudah bisa
kombatan.
5. Surveillance Drone
Pesawat drone ini memiliki teknologi VTOL (Vertical
Take-Off Landing) dan dibuat untuk melakukan tugas pemantauan dan
pemetaan. Surveillance drone ini memiliki panjang sayap 3,4 meter dibuat dengan
full carbon-fiber yang memiliki kelebihan ringan dan kuat.
Dengan fitur VTOL yang dimiliki, drone ini tidak memerlukan tempat yang luas
sebagai landasan take-off maupun landing, dan
drone ini mampu mengudara dengan waktu yang cukup lama karena saat drone ini
menjelajah atau cruising menggunakan fix wing.
Surveillance drone buatan tim Frogs Indonesia ini dirancang dengan kecepatan
maksimal 100km/jam, dan dengan daya jelajah 60km/jam. Dari kecepatan pada
saat cruising itu pula dapat disetting juga untuk mode hover atau
pesawat drone ini terbang diam diatas udara untuk beberapa tujuan tertentu
misalnya untuk pengawasan atau pemantauan.
Pada produk Frogs yang lainnya, seperti Sprayer
drone dan Cargo drone untuk jarak pendek merupakan jenis multi
rotor dimana semua beroperasi dengan full propeller atau
baling-baling, sedangkan Surveillance drone ini merupakan campuran dari dua
mode yaitu multi rotor dan fix wing atau
dengan sayap dan baling-baling. Dengan begitu, drone ini mempunyai keunggulan
dimana pada saat mulai beroperasi pada saat take off dan landing bisa
secara vertical menggunakan propeller sehingga
tidak membutuhkan landasan yang luas dan pada saat mengudara akan lebih hemat
karena menggunakan sayap dimana pada penggunaannya tersebut tidak membutuhkan
energi yang begitu besar seperti multi rotor pada biasanya.
PRODUCT UAV AI DRONE COPTER
1. Quadcopter

Inilah
jenis drone sipil yang paling awal dan paling populer di dunia. Jenis ini bisa
mudah Anda temukan di pasaran. Modelnya menggunakan 4 baling-baling dalam
formasi persegi yang semuanya berfungsi untuk mengangkat dan membelokkan drone.
Rata-rata
berukuran kecil dan kerap dilengkapi dengan sebuah kamera yang ditanamkan di
tubuh drone. Ada juga yang hanya menyediakan dudukan untuk meletakkan kamera
kecil. Biasanya kamera yang digunakan punya kualitas High Definition (HD)
untuk memberi gambar yang jelas dan terang.
Drone
ini menggunakan baterai sebagai sumber energi. Karenanya jarang ada drone
quadcopter yang mampu dipakai lama. Hanya berkisar 5-10 menit pemakaian, drone
ini sudah harus turun untuk diisi ulang baterainya.
2. GPS Drone

Sesuai
namanya, ini merupakan drone yang selalu terhubung dengan sinyal GPS dari
satelit. Keistimewaannya, drone ini bisa kembali ke titik keberangkatan tanpa
perlu kita kendalikan. Drone bisa kembali ke titik awal saat mulai kehabisan
baterai atau sudah di luar area kendali remote control.
Anda
harus memprogram drone ini terlebih dahulu melalui komputer sehingga bisa
diatur akan berangkat ke area mana dan kembali ke titik keberangkatannya. Jadi
Anda tak perlu repot mengendalikannya karena sudah berjalan secara otomatis.
Namun,
agar kemampuan menangkap sinyal GPS bisa berjalan dengan baik, Anda harus
menggunakan drone ini dalam kondisi cuaca terang dan tak berawan. Dengan
demikian, drone tidak mengalami kendala ketika membaca titik GPS yang sudah
diprogram sebelumnya.
3. RTF Drone

RTF merupakan
singkatan dari Ready to Fly. Jadi Anda tak akan banyak menemukan
kesulitan untuk menerbangkan drone ini. Keluarkan dari dalam boks, charge
baterai sampai penuh, dan Anda pun bisa segera menerbangkannya.
Mengendalikan RTF
drone pun relatif mudah, karena memang dirancang untuk para pemula. Bentuknya
cenderung mirip dengan quadcopter dalam ukuran kecil sehingga memudahkan mereka
yang baru belajar mengendalikan drone.
4.Trick Drone

Jika
Anda sudah mulai bisa mengendalikan RTF drone, kini saatnya mencoba jenis trick
drone. Jenis ini tidak hanya bisa diajak naik-turun atau belok kanan-kiri saja.
Tapi bisa melakukan sejumlah trik seperti berputar ke atas dan manuver-manuver
menarik lainnya.
Ukurannya
tak terlalu besar, panjangnya sekitar 26 cm saja. Beratnya pun hanya beberapa
puluh gram. Dilengkapi dengan alat kendali yang cukup user friendly bagi
para pemula di dunia drone. Umumnya sudah dilengkapi dengan kamera kecil. Tapi
kualitas rekamannya belum HD.
5. Helicopter Drone

Jika
mayoritas drone untuk sipil menggunakan empat rotor baling-baling, helicopter
drone justru hanya menggunakan satu mesin saja. Persis seperti yang biasa Anda
lihat dalam sebuah helikopter. Penggunaan satu mesin rotor justru membuat jenis
drone ini lebih mudah untuk dibuat melayang tetap di satu titik.
Menerbangkan
drone ini pun relatif lebih mudah dibanding drone dengan empat baling-baling.
Begitu pula saat akan menurunkannya. Apalagi dilengkapi dengan landing bar di
bagian bawah drone yang sama persis dengan yang ada di helikopter.
Drone
ini pun memiliki bagian depan, sehingga Anda harus bisa memastikan ke arah mana
drone ini akan bergerak secara benar. Untuk urusan kecepatan, drone ini kurang
bisa diandalkan.




